Teras Merdeka – Maraknya konsumsi konten video pendek di berbagai platform digital dinilai telah mengubah cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengakses informasi. Kemudahan memperoleh informasi secara instan memang membawa banyak manfaat, namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran terhadap menurunnya minat baca dan kemampuan memahami informasi secara mendalam.
Fenomena tersebut menjadi perhatian Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, yang menilai budaya membaca tetap harus diperkuat di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media digital.
Menurut Heri, kehadiran video pendek tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Namun, masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara konsumsi konten visual dengan kebiasaan membaca yang mampu melatih daya pikir kritis dan kemampuan analisis.
“Konten video pendek memang memudahkan orang memperoleh informasi dengan cepat. Tetapi membaca memberikan ruang yang lebih luas untuk memahami suatu persoalan secara mendalam dan membangun kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.
Heri mengatakan, rendahnya minat baca dapat berdampak pada kualitas literasi masyarakat.
Padahal, ia melanjutkan, kemampuan membaca dan memahami informasi menjadi salah satu keterampilan penting di tengah derasnya arus informasi digital.

Ia juga menilai bahwa tantangan saat ini bukan hanya soal akses terhadap informasi, melainkan bagaimana masyarakat mampu memilah, memahami dan mengolah informasi yang diterima dengan baik.
“Di era digital, informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu, kemampuan literasi menjadi semakin penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar,” katanya.
Heri juga mendorong sekolah, perguruan tinggi, keluarga dan komunitas untuk terus menumbuhkan budaya membaca melalui berbagai cara yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, upaya meningkatkan minat baca tidak harus selalu dilakukan melalui metode konvensional.
Pemanfaatan teknologi digital, perpustakaan berbasis komunitas, diskusi buku, hingga penyediaan ruang baca yang nyaman dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan masyarakat dengan aktivitas membaca.
“Yang terpenting adalah bagaimana membaca menjadi kebiasaan yang menyenangkan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, terutama generasi muda,” ujarnya.
Selain itu, Heri menilai literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami informasi secara kritis dan bertanggung jawab. Kemampuan tersebut dinilai sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital, termasuk maraknya misinformasi dan disinformasi.
Ia berharap, berbagai pihak dapat bersama-sama membangun ekosistem literasi yang lebih kuat agar budaya membaca tetap tumbuh di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi budaya membaca tidak boleh ditinggalkan. Membaca adalah fondasi penting untuk membangun masyarakat yang cerdas, kritis dan mampu beradaptasi dengan perubahan,” pungkasnya.










