Teras Merdeka – Fenomena rendahnya minat membaca yang berbanding terbalik dengan tingginya aktivitas masyarakat dalam memberikan komentar di ruang digital menjadi perhatian.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko. Menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi melalui penguatan literasi kritis agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam kesimpulan yang keliru akibat informasi yang dibaca secara sepintas.
Heri menilai, perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi. Banyak orang terdorong untuk langsung memberikan respons terhadap sebuah judul, potongan video, atau unggahan singkat tanpa terlebih dahulu memahami konteks secara menyeluruh.
“Kecepatan informasi memang membawa banyak manfaat. Namun kita juga melihat munculnya kecenderungan masyarakat untuk lebih cepat berkomentar daripada membaca secara utuh. Padahal pemahaman yang baik lahir dari proses membaca dan mencermati informasi secara lengkap,” ujarnya.
Data terbaru menunjukkan tantangan literasi masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Berdasarkan laporan tingkat kegemaran membaca tahun 2025, skor nasional berada pada angka 54,8 poin, yang masih masuk kategori rendah. Sebagian besar provinsi di Indonesia juga berada pada kategori yang sama.
Di sisi lain, penggunaan internet dan media sosial terus meningkat, menjadikan masyarakat semakin aktif berinteraksi di ruang digital. Fenomena ini menciptakan kondisi ketika informasi dapat menyebar sangat cepat, termasuk informasi yang belum tentu akurat atau dipahami secara utuh.
Menurut Heri, rendahnya budaya membaca mendalam dapat berdampak pada kualitas diskusi publik. Masyarakat berisiko lebih mudah terpengaruh informasi yang bersifat sensasional, provokatif, atau bahkan menyesatkan.
“Yang kita butuhkan bukan hanya masyarakat yang cepat merespons, tetapi juga masyarakat yang mampu memahami informasi secara utuh, memverifikasi fakta dan berpikir kritis sebelum menyampaikan pendapat,” katanya.

Heri menilai, peningkatan literasi harus dipahami lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca. Literasi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis dan menggunakan informasi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Ia pun mendorong penguatan budaya membaca sejak usia dini melalui keluarga, sekolah, perpustakaan, komunitas, hingga ruang-ruang digital yang dekat dengan generasi muda.
Menurut Heri, tantangan literasi saat ini bukan semata-mata kurangnya akses terhadap informasi, melainkan bagaimana masyarakat mampu memilah dan mengolah informasi yang jumlahnya semakin melimpah.
Pandangan serupa juga disampaikan sejumlah pemerhati literasi yang menilai peningkatan kualitas literasi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, dunia pendidikan dan komunitas masyarakat.
“Di era digital, membaca bukan lagi soal banyaknya informasi yang tersedia, tetapi kemampuan memahami informasi dengan benar. Kalau budaya membaca kuat, maka kualitas diskusi publik juga akan semakin baik,” ujarnya.
Terakhir, Heri mengatakan bahwa penguatan literasi kritis dapat menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia di Jawa Tengah. Menurutnya, masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis akan lebih siap menghadapi derasnya arus informasi sekaligus berkontribusi menciptakan ruang publik yang sehat.
“Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang cepat bereaksi tetapi lambat memahami. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kematangan berpikir agar informasi benar-benar menjadi sarana mencerdaskan kehidupan masyarakat,” pungkasnya.










