Teras Merdeka – Masa pensiun sering kali dipandang sebagai persoalan yang baru perlu dipikirkan ketika seseorang mendekati akhir masa kerja. Padahal, persiapan menuju masa pensiun idealnya dilakukan sejak usia produktif agar masyarakat dapat menjalani kehidupan yang tetap sejahtera, sehat dan produktif setelah tidak lagi aktif bekerja.
Perubahan struktur demografi dan meningkatnya angka harapan hidup membuat isu persiapan pensiun menjadi semakin relevan. Tanpa perencanaan yang matang, banyak pekerja berisiko mengalami kesulitan ekonomi, penurunan kualitas hidup, hingga masalah kesehatan mental setelah memasuki masa pensiun.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mendorong pemerintah untuk memperkuat program persiapan pensiun bagi pekerja produktif, baik di sektor formal maupun informal.
Menurut Heri, persiapan pensiun tidak hanya berkaitan dengan tabungan atau jaminan hari tua, tetapi juga mencakup kesiapan mental, kesehatan, keterampilan dan rencana aktivitas yang akan dijalani setelah berhenti bekerja.
“Banyak orang fokus bekerja untuk kebutuhan saat ini, tetapi belum memiliki perencanaan yang cukup untuk masa pensiun. Padahal, masa pensiun bisa berlangsung puluhan tahun dan perlu dipersiapkan sejak dini,” ujarnya.
Politikus Partai Gerindra itu menilai, edukasi mengenai perencanaan keuangan, investasi yang bijak, pola hidup sehat, hingga pengembangan keterampilan pascakerja perlu diperluas kepada masyarakat usia produktif.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua pekerja memiliki akses yang sama terhadap program pensiun. Karena itu, perhatian khusus perlu diberikan kepada pekerja sektor informal yang jumlahnya masih cukup besar dan kerap belum memiliki perlindungan jaminan hari tua yang memadai.
“Pekerja informal juga perlu mendapatkan edukasi dan pendampingan agar memiliki kesiapan menghadapi masa pensiun. Jangan sampai ketika produktivitas menurun, mereka tidak memiliki sumber penghasilan yang cukup,” katanya.
Heri menambahkan, masa pensiun tidak harus dimaknai sebagai akhir dari produktivitas seseorang. Dengan persiapan yang baik, para pensiunan masih dapat berkontribusi melalui kegiatan sosial, kewirausahaan, pemberdayaan masyarakat, maupun aktivitas lain yang sesuai dengan kemampuan dan minat mereka.
Menurutnya, pemerintah daerah dapat berperan melalui program pelatihan, literasi keuangan, serta pengembangan usaha kecil yang dapat menjadi pilihan bagi masyarakat dalam mempersiapkan masa pensiun.
“Tujuannya bukan hanya agar masyarakat memiliki keamanan finansial, tetapi juga tetap memiliki kualitas hidup yang baik dan merasa bermanfaat setelah memasuki masa pensiun,” jelasnya.
Heri berharap, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perencanaan pensiun dapat terus meningkat. Dengan persiapan yang dilakukan sejak usia produktif, masa pensiun dapat menjadi fase kehidupan yang tetap aktif, mandiri dan sejahtera.
“Pensiun adalah bagian dari siklus kehidupan yang pasti akan dihadapi. Karena itu, semakin awal dipersiapkan, semakin besar peluang seseorang untuk menikmati masa tua dengan tenang dan bermartabat,” pungkasnya. [ADV]










