• Beranda
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Tech News, Magazine & Review WordPress Theme 2017
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Jawa Tengah
      • Semarang
      • Jepara
      • Solo Raya
      • Kedu
      • Pantura
  • Pendidikan
  • Politik
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Teknologi
  • Ensiklopedia
    • Opini
    • Kolom
    • Analisa
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Jawa Tengah
      • Semarang
      • Jepara
      • Solo Raya
      • Kedu
      • Pantura
  • Pendidikan
  • Politik
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Teknologi
  • Ensiklopedia
    • Opini
    • Kolom
    • Analisa
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Teras Merdeka
No Result
View All Result

Seorang Remaja Alami Kekerasan Seksual di Dunia Metaverse, Keamanan Inggris Desak UU Baru

Desakan UU Baru

Teras Merdeka by Teras Merdeka
11/01/2024
Seorang Remaja Alami Kekerasan Seksual di Dunia Metaverse, Keamanan Inggris Desak UU Baru

Ilustrasi: Penggunaan Virtual Reality (VR).

Share on FacebookShare on Twitter
Post Views: 388

Teras Merdeka – Teknologi virtual reality (VR) yang membawa penggunanya memasuki dunia maya dengan sangat dalam, dilaporkan memakan korban pelecehan seksual. Seorang gadis berusia 16 tahun di Inggris dilaporkan mengalami pemerkosaan virtual oleh pengguna lainnya.

Remaja tersebut mengalami kejadian itu saat bermain game online Metaverse milik Meta, Horizon Worlds. Avatar miliknya diserang secara seksual oleh beberapa pria dewasa.

Korban yang memakai headset VR itu disebut tidak mengalami luka apa pun karena tidak ada serangan fisik.

Akan tetapi, petugas mengatakan korban menderita trauma psikologis dan emosional yang sama seperti seseorang yang diperkosa di dunia nyata. Pasalnya, pengalaman VR dirancang sebagaimana realitas dunia nyata.

Polisi kemudian menyelidiki kasus ini, yang merupakan pertama kalinya sebuah kasus kekerasan seksual virtual diselidiki oleh polisi di Inggris.

“Anak ini mengalami trauma psikologis yang mirip dengan seseorang yang diperkosa secara fisik. Ada dampak emosional dan psikologis pada korban yang memiliki dampak jangka panjang dibandingkan cedera fisik apa pun,” kata seorang perwira senior yang mengetahui kasus ini, dikutip dari Daily Mail.

“Hal ini menimbulkan sejumlah tantangan bagi penegakan hukum mengingat undang-undang yang ada saat ini tidak dirancang untuk hal semacam ini,” lanjut dalam laporan tersebut.

Sejauh ini, petugas tak memberi rincian kronologi kasus dan identitas korbannya sendiri dirahasiakan untuk melindungi sang anak.

Kasus tersebut menggenapkan sejumlah serangan seksual yang dilaporkan terjadi di Horizon Worlds.

Pada 2022, contohnya, seorang perempuan ‘hampir diperkosa’ oleh orang asing di Horizon Worlds sementara pengguna lain hanya ‘menonton dan membagikan sebotol vodka’.

Hal itu berdasarkan pengujian oleh SumOfUs, organisasi nirlaba antikorporasi, dengan cara mengirimkan seorang peneliti berusia 21 tahun ke dunia maya.

Sekitar satu jam setelah menggunakan platform tersebut, avatarnya mengalami pelecehan seksual dalam ‘pengalaman yang membingungkan dan tanpa arah jelas.’

Nina Jane Patel, psikoterapis yang melakukan penelitian tentang Metaverse, menggambarkan kasus-kasus ini seperti “mimpi buruk yang nyata.”

Desakan UU Baru

Buntut kasus terbaru ini, para petinggi kepolisian menyerukan undang-undang demi mengatasi gelombang kekerasan seksual di dunia maya.

Kepala Dewan Perlindungan Anak dan Pimpinan Investigasi Perlindungan di Kepolisian Nasional Inggris, Ian Critchley memperingatkan “metaverse menciptakan pintu gerbang bagi predator untuk melakukan kejahatan mengerikan terhadap anak-anak.”

Meski demikian, sejumlah rintangan masih mengadang. Pertama, soal perundangan yang mana yang bisa dipakai untuk menjerat para pelaku.

UU yang berlaku di Inggris saat ini tidak mencakup definisi pemerkosaan di Metaverse. Pasalnya, kekerasan seksual didefinisikan sebagai sentuhan fisik terhadap orang lain secara seksual tanpa persetujuan.

Kedua, sifat Metaverse yang tanpa batas geografis. Alhasil, sulit untuk menentukan lembaga penegak hukum mana yang memiliki yurisdiksi saat locus delicti-nya di Horizon Worlds dengan korban dan pelaku berada di negara berbeda.

Seorang petugas polisi senior mengaku kekerasan seksual di Metaverse sekarang “merajalela.” Namun, sejauh ini belum ada penuntutan di Inggris atas kasus ini.

Meski begitu, polisi menerima laporan potensi pelanggaran lainnya di Metaverse, termasuk pencurian pedang berharga milik salah satu avatar.

Polisi yakin perkembangan game telah membuka jalan baru bagi kejahatan dunia maya, termasuk perampokan virtual, ransomware, penipuan, dan pencurian identitas.

Ketua Asosiasi Polisi dan Komisaris Kejahatan, Donna Jones pun menyerukan aturan baru demi melindungi perempuan dan anak-anak.

“Kita perlu memperbarui undang-undang kita karena mereka belum bisa mengimbangi risiko bahaya yang berkembang dari kecerdasan buatan dan pelanggaran terhadap hukum platform seperti Metaverse,” ujarnya.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan perubahan undang-undang untuk melindungi perempuan dan anak-anak dari bahaya di lingkungan virtual ini,” lanjutnya.

Tantangan ketiga adalah masih banyaknya kasus perkosaan di dunia nyata yang belum tuntas ditangani.

“Saya tahu mudah untuk menganggap hal ini (perkosaan virtual) tidak nyata. Namun, inti dari lingkungan virtual ini adalah bahwa lingkungan tersebut sangat mendalam,” ujar Menteri Dalam Negeri James Cleverly dikutip dari LBC, yang dikutip cnnindonesia.com, Kamis (11/1/2024)..

“Dan kita berbicara tentang seorang anak di sini, dan seorang anak mengalami trauma seksual,” cetusnya.

Menurut Cleverly, kejadian di dunia maya ini amat terkait dengan kondisi di dunia nyata.

“Hal ini akan mempunyai dampak psikologis yang sangat signifikan dan kita harus sangat berhati-hati soal pengabaian terhadap hal ini,” jelasnya.

“Perlu juga disadari bahwa seseorang yang mau membuat seorang anak mengalami trauma seperti itu secara digital mungkin adalah seseorang yang terus melakukan hal-hal buruk secara fisik.”

“Ini mungkin tampak aneh bagi sebagian orang, tapi menurut saya, [penanganan kasus] ini adalah sesuatu yang layak untuk diperhatikan,” ujar Cleverly.

Merspons kasus ini, juru bicara Meta mengklaim ada fitur untuk membatasi diri dari pengguna asing di Metaverse.

“Perilaku seperti yang dijelaskan tidak memiliki tempat di platform kami, itulah sebabnya bagi semua pengguna kami memiliki perlindungan otomatis yang disebut batasan pribadi, yang membuat orang yang tidak Anda kenal berada beberapa meter dari Anda,” ujar jubir itu.

Tags: Kejahatan MetaverseKekerasan SeksualPemerkosaan Virtual
Teras Merdeka

Teras Merdeka

Related Posts

Raih IPK Sempurna 4.0, Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh Jadi Doktor Ilmu Hukum
Berita

Raih IPK Sempurna 4.0, Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh Jadi Doktor Ilmu Hukum

14/02/2026
Kasus OTT Bupati Pati, Gerindra Jateng Tunggu Hasil Resmi KPK
Berita

Kasus OTT Bupati Pati, Gerindra Jateng Tunggu Hasil Resmi KPK

19/01/2026
EWS Aktif Dini Hari, 154 Warga Dusun Tanjung Borobudur Dievakuasi Akibat Longsor
Berita

EWS Aktif Dini Hari, 154 Warga Dusun Tanjung Borobudur Dievakuasi Akibat Longsor

17/01/2026
Heri Pudyatmoko Paparkan Relevansi Pendidikan Perempuan dengan Tercapainya Ketahanan Pangan
Berita

Antisipasi Lonjakan Mobilitas Libur Panjang, Heri Pudyatmoko Soroti Kesiapan Transportasi Publik

16/12/2025
Next Post
Sri Mulyani beserta Menteri Kabinet Jokowi Didesak Mundur Gara-gara Ini

Sri Mulyani beserta Menteri Kabinet Jokowi Didesak Mundur Gara-gara Ini

TERBARU.

Membangun dengan Hati, Kodim Kebumen Tegaskan Satgas TMMD Peduli Kehidupan Masyarakat

Membangun dengan Hati, Kodim Kebumen Tegaskan Satgas TMMD Peduli Kehidupan Masyarakat

20/02/2026
Raih IPK Sempurna 4.0, Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh Jadi Doktor Ilmu Hukum

Raih IPK Sempurna 4.0, Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh Jadi Doktor Ilmu Hukum

14/02/2026
Tanpa Euforia, Gerindra Kota Semarang Rayakan HUT ke-18 dengan Berbagai Kegiatan Sosial

Tanpa Euforia, Gerindra Kota Semarang Rayakan HUT ke-18 dengan Berbagai Kegiatan Sosial

08/02/2026
SPPG Miroto Semarang Mulai Layani 861 Paket MBG, Targetkan 3.000 Penerima Manfaat

SPPG Miroto Semarang Mulai Layani 861 Paket MBG, Targetkan 3.000 Penerima Manfaat

01/02/2026
Kasus OTT Bupati Pati, Gerindra Jateng Tunggu Hasil Resmi KPK

Kasus OTT Bupati Pati, Gerindra Jateng Tunggu Hasil Resmi KPK

19/01/2026

TERPOPULER.

Panas Semarang Disebut Lebih Tinggi dari Jakarta, Jemur Baju 30 Menit Langsung Kering

Panas Semarang Disebut Lebih Tinggi dari Jakarta, Jemur Baju 30 Menit Langsung Kering

06/10/2023
BPBD Jepara Berhasil Distribusikan Air Bersih hingga 486 Ribu Liter

BPBD Jepara Berhasil Distribusikan Air Bersih hingga 486 Ribu Liter

20/09/2024
Alasan Megawati Pilih Mahfud MD Jadi Cawapres Ganjar Pranowo

Alasan Megawati Pilih Mahfud MD Jadi Cawapres Ganjar Pranowo

18/10/2023
Peringati HKBN, BPBD Jepara Tanamkan Sikap Siap Siaga Penanganan Bencana

Peringati HKBN, BPBD Jepara Tanamkan Sikap Siap Siaga Penanganan Bencana

24/04/2024
Tahun Kuda Api 2026, 3 Shio Ini Diprediksi Paling Beruntung

Tahun Kuda Api 2026, 3 Shio Ini Diprediksi Paling Beruntung

11/12/2025
Teras Merdeka

Terasmerdeka.com adalah sebuah media online yang bertekad untuk hadir menyajikan konten media yang berkualitas dan transformatif serta memberikan pencerahan kepada pembaca dengan sajian analisa faktual, aktual, dan kritis.

Follow Us

  • Beranda
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

© 2026 Teras Merdeka All right reserved

No Result
View All Result
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Jawa Tengah
      • Semarang
      • Jepara
      • Pantura
      • Solo Raya
      • Kedu
  • Pendidikan
  • Politik
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Teknologi
  • Ensiklopedia
    • Analisa
    • Kolom
    • Opini
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

© 2026 Teras Merdeka All right reserved