Teras Merdeka – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Di tengah berbagai manfaat yang ditawarkan, kemajuan teknologi juga memunculkan tantangan baru, salah satunya penyalahgunaan teknologi deepfake untuk membuat gambar, suara, maupun video manipulatif.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mengajak generasi muda untuk meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perkembangan teknologi digital tersebut. Menurutnya, kemampuan mengenali informasi palsu menjadi semakin penting karena konten hasil manipulasi kini dapat dibuat semakin meyakinkan.
“Generasi muda harus cerdas menghadapi ancaman deepfake. Jangan mudah percaya pada setiap konten yang beredar di media sosial. Verifikasi terlebih dahulu sebelum mempercayai atau menyebarkannya,” ujar Heri.
Ia mengatakan, teknologi AI pada dasarnya memberikan banyak manfaat dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga pelayanan publik. Namun, penggunaan teknologi tanpa tanggung jawab dapat membuka peluang terjadinya kejahatan dan penyalahgunaan di ruang digital.
Menurut Heri, persoalan deepfake kini bukan lagi sekadar isu yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Penyalahgunaannya berpotensi menimbulkan dampak serius, mulai dari pelanggaran privasi, pencemaran nama baik, penyebaran informasi palsu, hingga berbagai bentuk penipuan.
Teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membuat konten manipulatif yang menggunakan wajah atau suara seseorang tanpa izin. Bahkan, penyalahgunaan AI untuk membuat konten sensitif dan merugikan korban menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai.
Selain itu, deepfake juga berpotensi digunakan dalam modus penipuan digital. Manipulasi wajah dan suara dapat membuat pelaku kejahatan lebih mudah meyakinkan calon korban, termasuk untuk meminta uang maupun memperoleh informasi pribadi.
Kondisi tersebut, menurut Heri, menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Masyarakat juga harus memiliki pemahaman mengenai risiko digital serta kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil tindakan.
“Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi jadilah pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab. Deepfake bisa merusak reputasi seseorang, memecah belah masyarakat, bahkan menjerumuskan orang ke dalam tindak penipuan,” tegasnya.
Politikus yang akrab disapa Heri Londo itu mendorong penguatan literasi digital sebagai salah satu langkah penting untuk menghadapi risiko penyalahgunaan teknologi AI. Menurutnya, generasi muda perlu dibekali kemampuan melakukan verifikasi informasi, menjaga data pribadi, serta memahami etika dalam menggunakan teknologi.
Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas digital, dan berbagai pihak terkait dalam meningkatkan kesadaran mengenai keamanan digital.
Sekolah dan perguruan tinggi, menurut Heri, dapat mengambil peran penting dalam membangun pemahaman generasi muda agar tidak mudah menjadi korban maupun ikut menyebarkan konten hasil manipulasi.
“Teknologi akan terus berkembang. Karena itu kemampuan berpikir kritis juga harus terus berkembang. Kalau tidak, kita berisiko menjadi korban dari teknologi yang sebenarnya diciptakan untuk membantu manusia,” katanya.
Heri berharap perkembangan AI dapat dimanfaatkan secara positif untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat. Namun, kemajuan tersebut harus berjalan seiring dengan tanggung jawab dan penguatan literasi digital.
“AI harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup dan pengetahuan, bukan justru menjadi sarana yang merugikan orang lain. Di sinilah pentingnya literasi digital yang kuat sebagai benteng menghadapi berbagai tantangan di era teknologi,” pungkasnya. [ADV]










