Teras Merdeka – Perjalanan karier Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Sriyanto memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun menjalankan berbagai penugasan militer, perwira tinggi TNI Angkatan Darat dari kecabangan Zeni itu kini dipercaya mengemban tanggung jawab di bidang lingkungan hidup sebagai Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN).
Sriyanto resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada 15 Oktober 2026. Pengangkatannya bersama Prof. Satyawan Pudyatmoko sebagai Kepala BPGMN ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 43/M Tahun 2026.
Jabatan barunya menempatkan Sriyanto pada salah satu persoalan lingkungan yang kompleks, yakni perlindungan ekosistem gambut dan mangrove, termasuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang setiap tahun.
Jejak Pengabdian dari Militer hingga Misi Internasional
Sriyanto merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1998 dari kecabangan Zeni, satuan yang memiliki keahlian dalam bidang teknik militer, konstruksi, serta dukungan mobilitas operasi.
Dalam perjalanan kariernya, ia memperoleh sejumlah penugasan di berbagai daerah Indonesia.
Sriyanto pernah menjabat Komandan Kodim 1413/Buton pada 2020–2021, kemudian Komandan Kodim 0415/Jambi pada 2021–2022.
Kariernya berlanjut sebagai Asisten Logistik Kasdam II/Sriwijaya pada 2022–2023, sebelum menjalankan penugasan di Denmabesad sepanjang 2023–2025.
Pada 2025–2026, ia dipercaya menduduki jabatan Kepala Kelompok Staf Ahli Pangdam XXI/Radin Inten.
Pengalaman Sriyanto juga mencakup penugasan internasional. Pada 2016, ia pernah menjadi Komandan Satuan Tugas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-M dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Demokratik Kongo melalui MONUSCO.
Di luar pendidikan militer, Sriyanto memiliki latar belakang akademik di bidang hubungan internasional dan pertahanan. Ia tercatat memiliki gelar Master of International Relations (MIR), Master of Arts (MA), dan Magister Pertahanan, serta menempuh pendidikan doktoral.
Kombinasi pengalaman teritorial, logistik, teknik militer, dan penugasan internasional menjadi bagian dari latar belakang yang dibawanya ke BPGMN.
Tantangan Baru Menjaga Ekosistem Gambut
Tugas Sriyanto di BPGMN berbeda dari penugasan militer yang selama ini dijalaninya.
Sebagai Wakil Kepala BPGMN, ia dihadapkan pada persoalan pengelolaan gambut dan mangrove yang melibatkan berbagai kepentingan, mulai dari perlindungan lingkungan, aktivitas ekonomi masyarakat, tata kelola lahan, hingga penanganan bencana.
Pemerintah menempatkan pencegahan karhutla dan pemulihan ekosistem gambut sebagai salah satu fokus badan tersebut.
Kepala BPGMN Satyawan Pudyatmoko, seusai pelantikan, menegaskan pentingnya upaya menekan kebakaran gambut sekaligus memulihkan kawasan yang mengalami kerusakan.
Bagi Sriyanto, tugas tersebut bukan sepenuhnya persoalan baru. Ketika bertugas di Lampung, ia pernah terlibat dalam penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Way Kambas.
Pengalaman itu mempertemukannya secara langsung dengan tantangan pemadaman kebakaran di wilayah yang memiliki akses sulit dan keterbatasan sumber air.
Kini, tantangannya tidak lagi sebatas menangani kebakaran yang telah terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan melalui koordinasi lintas lembaga, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan masyarakat.
Sriyanto turut mendorong pengembangan sistem yang mampu mengintegrasikan informasi kondisi gambut, mengidentifikasi potensi masalah, dan membantu menentukan langkah mitigasi lebih awal.
Selain urusan karhutla, ia menaruh perhatian pada pemanfaatan ekosistem gambut dan mangrove yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Perjalanan dari dunia militer menuju pengelolaan lingkungan kini membuka babak pengabdian berbeda bagi Sriyanto. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pengalaman kepemimpinan dan koordinasi lapangan menjadi langkah nyata dalam menjaga salah satu ekosistem penting Indonesia.










