Teras Merdeka – Potensi kopi Jawa Tengah dinilai tidak hanya dapat dikembangkan sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai daya tarik pariwisata yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mendorong pengembangan jalur wisata kopi yang menghubungkan kawasan kebun, proses produksi, edukasi, hingga kedai-kedai kopi lokal.
Menurut Heri, konsep tersebut dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati produk kopi, tetapi juga dapat melihat langsung proses budidaya, mengenal pengolahan biji kopi, hingga memahami cerita di balik setiap daerah penghasil kopi.
“Jangan hanya menjual biji kopi. Kita perlu membangun ekosistem yang membuat wisatawan bisa melihat prosesnya secara utuh, mulai dari kebun, pengolahan, hingga menikmati secangkir kopi di kedai lokal. Di situlah nilai tambah terbesar bisa tercipta,” ujarnya.
Heri menilai Jawa Tengah memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan konsep wisata berbasis kopi. Selain kondisi geografis yang mendukung budidaya, sejumlah daerah juga dikenal menghasilkan kopi dengan karakter dan cita rasa yang khas.
Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah mencatat luas areal perkebunan kopi di provinsi ini mencapai 47.714,53 hektare dengan produksi sebesar 26.507,79 ton pada 2024. Sentra kopi juga tersebar di 28 kabupaten/kota dengan komoditas utama berupa kopi robusta dan arabika.
Sejumlah daerah seperti Temanggung, Wonosobo, Batang, Banjarnegara, Kabupaten Semarang, Magelang, hingga Jepara memiliki potensi untuk mengembangkan wisata kopi yang dipadukan dengan keindahan alam dan aktivitas masyarakat setempat.
Politikus Partai Gerindra yang akrab disapa Heri Londo itu menilai, pengembangan jalur wisata kopi dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah yang diterima petani dan masyarakat di sekitar kawasan perkebunan.
“Selama ini sebagian besar keuntungan masih terkonsentrasi di hilir. Melalui wisata kopi, petani bisa mendapatkan nilai ekonomi tambahan karena wisatawan datang langsung ke kawasan produksi,” katanya.
Menurut Heri, tren pariwisata saat ini semakin mengarah pada pengalaman yang autentik. Wisatawan tidak hanya mencari produk untuk dibeli, tetapi juga ingin mengetahui asal-usul, proses produksi, serta keunikan budaya yang melekat pada sebuah daerah.
Karena itu, setiap kawasan penghasil kopi dapat membangun karakter dan cerita masing-masing sebagai bagian dari daya tarik wisata. Mulai dari kisah para petani, proses budidaya, metode pengolahan, hingga tradisi masyarakat sekitar dapat dikemas menjadi pengalaman yang menarik bagi pengunjung.
“Setiap daerah memiliki karakter kopi yang berbeda. Cerita tentang petaninya, proses budidayanya, hingga budaya masyarakat sekitar merupakan bagian dari daya tarik yang bisa dijual kepada wisatawan,” ujarnya.
Heri menambahkan, manfaat pengembangan wisata kopi tidak hanya akan dirasakan petani dan pelaku usaha kopi. Sektor lain seperti UMKM, kuliner, penginapan, transportasi lokal, hingga industri kreatif juga berpeluang memperoleh dampak ekonomi.
Untuk itu, ia mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, kelompok tani, pelaku usaha kopi, komunitas kreatif, dan sektor pariwisata. Kerja sama tersebut dinilai penting untuk membangun identitas kopi Jawa Tengah sekaligus menciptakan jalur wisata yang terintegrasi.
“Jawa Tengah memiliki kopi berkualitas dan cerita yang kuat. Tinggal bagaimana semua potensi itu dihubungkan dalam satu ekosistem yang mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap pengembangan kopi ke depan tidak berhenti pada peningkatan produksi semata, tetapi juga diarahkan untuk memperluas nilai tambah melalui pengolahan, pemasaran, dan sektor pariwisata.
“Ketika kopi tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga sebagai pengalaman wisata, maka manfaat ekonominya akan jauh lebih besar dan dirasakan oleh lebih banyak masyarakat,” pungkasnya. [ADV]










