Teras Merdeka – Urbanisasi berlebih dari desa ke kota masih menjadi masalah serius di Jawa Tengah. Banyak pemuda desa memilih meninggalkan kampung halaman karena minimnya peluang ekonomi di pedesaan. Menyikapi hal ini, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menekankan dua strategi utama: hilirisasi pertanian dan pengembangan ekonomi kreatif.
Menurut Heri, urbanisasi yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan berbagai masalah baru. Mulai dari kemacetan lalu lintas, meningkatnya pengangguran di kota, hingga penurunan produktivitas lahan pertanian di pedesaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, sebanyak 187.000 warga Jateng bermigrasi ke kota-kota besar sepanjang tahun 2025. Mayoritas adalah generasi muda yang frustrasi karena pendapatan dari sektor pertanian masih rendah dan minimnya nilai tambah hasil panen.
“Kita tidak boleh terus menjual hasil pertanian dalam bentuk mentah. Harus ada hilirisasi agar nilai ekonominya meningkat,” tegas Heri.
Ia mencontohkan pengolahan gabah menjadi beras kemasan premium, sayuran menjadi keripik, atau buah menjadi jus dan selai siap konsumsi yang bisa meningkatkan pendapatan petani hingga dua hingga tiga kali lipat.
Selain hilirisasi pertanian, Heri juga mendorong pengembangan ekonomi kreatif di pedesaan. Kerajinan tangan, wisata desa, produk budaya lokal, hingga konten digital tentang kehidupan agraris dinilainya mampu menarik minat generasi muda untuk bertahan di kampung.
“Kalau anak muda sudah bisa mencari penghasilan yang layak di desa, mereka tidak perlu lagi merantau ke kota besar,” ujar Heri.

Heri mendorong pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk segera mengalokasikan anggaran khusus bagi pembangunan unit pengolahan hasil pertanian di tingkat kecamatan. Selain itu, pelatihan digital marketing dan pendampingan usaha kreatif juga harus digencarkan.
Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional, memiliki potensi sangat besar. Dengan hilirisasi yang masif, Jawa Tengah bisa menciptakan ribuan lapangan kerja baru di pedesaan, sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, Heri juga mengajak mahasiswa dan pemuda Jateng untuk turun langsung ke desa.
“Jangan hanya jadi konsumen, tapi jadilah pelaku ekonomi kreatif di kampung sendiri,” ajaknya.
Jika teraktualisasi dan terintegrasi dengan maksimal, Heri optimistis Jawa Tengah bisa menjadi contoh sukses penyeimbangan pembangunan antara kota dan desa
“Kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh integritas. Sumber daya kita melimpah, tinggal bagaimana kita kelola untuk kesejahteraan bersama,” pungkasnya.









