Teras Merdeka – Studi pemodelan iklim terbaru mengungkap potensi perubahan besar pada fenomena El Niño dalam waktu dekat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pola pemanasan Samudra Pasifik itu dapat menjadi lebih kuat sekaligus lebih teratur. Temuan ini signifikan, mengingat El Niño selama ini sudah cukup mengacaukan cuaca di berbagai belahan dunia. Perubahan perilakunya diperkirakan berdampak hampir di seluruh planet.
Penelitian dilakukan oleh tim ilmuwan internasional dengan menggunakan model iklim beresolusi tinggi untuk memahami bagaimana kawasan tropis Pasifik merespons skenario emisi gas rumah kaca yang tetap tinggi sepanjang abad ini.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa kejadian El Niño dapat muncul lebih rutin setiap dua hingga lima tahun, berbeda dari pola saat ini yang cenderung tidak teratur. Pergeseran tersebut berpotensi mengubah pola hujan dan suhu di berbagai wilayah dunia.
Riset ini dipimpin oleh Malte F. Stuecker, ahli oseanografi dan ilmuwan iklim dari University of Hawai’i at Mānoa. Fokusnya adalah mempelajari bagaimana perubahan kondisi di Pasifik tropis memicu fluktuasi iklim global.
Dalam simulasi, tim menemukan bahwa kawasan Pasifik tropis dapat melampaui tipping point iklim — ambang batas ketika sedikit pemanasan saja dapat memicu perubahan yang jauh lebih drastis.
“Di dunia yang lebih hangat, kawasan tropis Pasifik bisa mengalami jenis tipping point iklim tertentu,” kata Stuecker, dalam riset yang dipublikasikan di Nature Communications, dikutip dari laman Earth, Kamis (11/12/2025).
Model iklim beresolusi tinggi AWI CM3 yang digunakan dalam penelitian ini mampu menangkap dinamika atmosfer dan laut secara detail. Di bawah asumsi bahwa emisi gas rumah kaca tetap sangat tinggi hingga akhir abad ke-21, simulasi menunjukkan suhu permukaan laut di Pasifik berosilasi lebih ekstrem antara fase hangat dan dingin.
Fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) sendiri merupakan salah satu ritme iklim paling penting di Bumi.
Saat ini, El Niño dan La Niña muncul setiap beberapa tahun dengan skala yang sangat bervariasi. Dampak jangka panjangnya melalui telekoneksi dapat menyebabkan satu wilayah mengalami musim dingin basah, sementara wilayah lain mengalami kekeringan.
Banyak model iklim sebelumnya telah memproyeksikan peningkatan variabilitas ENSO di masa depan, namun simulasi terbaru ini menunjukkan perubahan yang lebih besar: bukan hanya penguatan El Niño, tetapi perubahan dari pola yang kacau menjadi lebih teratur.
Jika ayunan ENSO semakin rutin, pengaruhnya pada pola angin dan hujan dapat lebih mudah terkunci dengan mode iklim global lainnya.
Pada awal simulasi, El Niño dan La Niña masih berperilaku seperti kondisi historis. Namun seiring waktu, naik-turun siklus menjadi lebih besar dan lebih terkonsentrasi pada satu rentang periode berulang. Perubahan itu terlihat dari penurunan sample entropy, indikator meningkatnya keteraturan pola ENSO, yang melampaui batas variasi alami.
Model juga menunjukkan peningkatan air–sea feedback — interaksi dua arah antara suhu laut dan angin yang memperkuat gangguan kecil hingga menciptakan ayunan lebih besar. Selain itu, fluktuasi cuaca tropis acak tampak menjadi lebih energik, mendorong Pasifik memasuki siklus yang semakin intens.
Ketika El Niño menguat, pola iklim global lain ikut terseret dalam ritme yang sama. Para peneliti menyebut fenomena ini climate mode resonance, yakni kondisi ketika beberapa siklus iklim global terkunci dan bergerak mengikuti periode El Niño.
Sinkronisasi terlihat pada North Atlantic Oscillation, yang mengarahkan badai ke Eropa, serta mode iklim di Samudra Hindia dan Atlantik yang memengaruhi monsun, hujan di Sahel, hingga musim badai Atlantik.
Simulasi AWI CM3 memperlihatkan kekuatan mode iklim ini meningkat signifikan, dengan ayunan suhu yang dapat bertambah hingga setengah atau lebih dibanding kondisi saat ini. Seluruh pola kemudian ikut mengunci pada ritme El Niño yang makin kuat.
Studi lain menunjukkan bahwa kawasan tropis Atlantik Utara juga akan mengalami ayunan antar-tahun yang lebih besar seiring pemanasan global, salah satunya akibat penguatan El Niño.
Dalam simulasi, sinyal penguatan El Niño tampak pada pola tekanan udara musim dingin di Atlantik Utara serta curah hujan di Eropa Barat. Keterkaitan yang semakin erat itu berarti badai Eropa dan musim dingin basah di kawasan tersebut akan makin bergantung pada fase El Niño dan La Niña.
Profesor Axel Timmermann dari Pusan National University memperingatkan bahwa sinkronisasi ini dapat memicu fluktuasi curah hujan ekstrem di wilayah seperti California Selatan dan Semenanjung Iberia. Di area tersebut, hydroclimate whiplash — peralihan mendadak dari kondisi sangat kering ke sangat basah — dapat membawa masyarakat dari krisis air langsung menuju ancaman banjir besar.
Analisis global menunjukkan bahwa ayunan ekstrem itu telah meningkat sejak pertengahan abad ke-20.
Proyeksi di California bahkan mencatat kenaikan besar dalam transisi dari kekeringan ke banjir, meski rata-rata curah hujan tahunan tidak banyak berubah. Studi yang dipimpin Daniel Swain memperkirakan lonjakan 25 hingga 100 persen pada kejadian perubahan dari kering ke basah tersebut.
Timmermann mencatat bahwa meskipun pola ENSO yang lebih teratur dapat meningkatkan akurasi prakiraan iklim musiman, dampaknya justru bisa makin besar. Kondisi ini menuntut strategi perencanaan dan adaptasi yang jauh lebih kuat dari para pengelola sumber daya air, sektor pertanian, hingga perencana kota di berbagai negara yang berisiko terdampak.















