• Beranda
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Tech News, Magazine & Review WordPress Theme 2017
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Jawa Tengah
      • Semarang
      • Jepara
      • Solo Raya
      • Kedu
      • Pantura
  • Pendidikan
  • Politik
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Teknologi
  • Ensiklopedia
    • Opini
    • Kolom
    • Analisa
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Jawa Tengah
      • Semarang
      • Jepara
      • Solo Raya
      • Kedu
      • Pantura
  • Pendidikan
  • Politik
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Teknologi
  • Ensiklopedia
    • Opini
    • Kolom
    • Analisa
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Teras Merdeka
No Result
View All Result

Studi Baru: El Niño Bakal Memicu Panas dan Hujan Lebat Lebih Sering

Teras Merdeka by Teras Merdeka
11/12/2025
Studi Baru: El Niño Bakal Memicu Panas dan Hujan Lebat Lebih Sering

Kondisi banjir yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara sejak Minggu (23/11) (Foto: Dok. BPBD Kabupaten Aceh Tenggara)

Share on FacebookShare on Twitter
Post Views: 76

Teras Merdeka – Studi pemodelan iklim terbaru mengungkap potensi perubahan besar pada fenomena El Niño dalam waktu dekat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pola pemanasan Samudra Pasifik itu dapat menjadi lebih kuat sekaligus lebih teratur. Temuan ini signifikan, mengingat El Niño selama ini sudah cukup mengacaukan cuaca di berbagai belahan dunia. Perubahan perilakunya diperkirakan berdampak hampir di seluruh planet.

Penelitian dilakukan oleh tim ilmuwan internasional dengan menggunakan model iklim beresolusi tinggi untuk memahami bagaimana kawasan tropis Pasifik merespons skenario emisi gas rumah kaca yang tetap tinggi sepanjang abad ini.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa kejadian El Niño dapat muncul lebih rutin setiap dua hingga lima tahun, berbeda dari pola saat ini yang cenderung tidak teratur. Pergeseran tersebut berpotensi mengubah pola hujan dan suhu di berbagai wilayah dunia.

Riset ini dipimpin oleh Malte F. Stuecker, ahli oseanografi dan ilmuwan iklim dari University of Hawai’i at Mānoa. Fokusnya adalah mempelajari bagaimana perubahan kondisi di Pasifik tropis memicu fluktuasi iklim global.

Dalam simulasi, tim menemukan bahwa kawasan Pasifik tropis dapat melampaui tipping point iklim — ambang batas ketika sedikit pemanasan saja dapat memicu perubahan yang jauh lebih drastis.

“Di dunia yang lebih hangat, kawasan tropis Pasifik bisa mengalami jenis tipping point iklim tertentu,” kata Stuecker, dalam riset yang dipublikasikan di Nature Communications, dikutip dari laman Earth, Kamis (11/12/2025).

Model iklim beresolusi tinggi AWI CM3 yang digunakan dalam penelitian ini mampu menangkap dinamika atmosfer dan laut secara detail. Di bawah asumsi bahwa emisi gas rumah kaca tetap sangat tinggi hingga akhir abad ke-21, simulasi menunjukkan suhu permukaan laut di Pasifik berosilasi lebih ekstrem antara fase hangat dan dingin.

Fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) sendiri merupakan salah satu ritme iklim paling penting di Bumi.

Saat ini, El Niño dan La Niña muncul setiap beberapa tahun dengan skala yang sangat bervariasi. Dampak jangka panjangnya melalui telekoneksi dapat menyebabkan satu wilayah mengalami musim dingin basah, sementara wilayah lain mengalami kekeringan.

Banyak model iklim sebelumnya telah memproyeksikan peningkatan variabilitas ENSO di masa depan, namun simulasi terbaru ini menunjukkan perubahan yang lebih besar: bukan hanya penguatan El Niño, tetapi perubahan dari pola yang kacau menjadi lebih teratur.

Jika ayunan ENSO semakin rutin, pengaruhnya pada pola angin dan hujan dapat lebih mudah terkunci dengan mode iklim global lainnya.

Pada awal simulasi, El Niño dan La Niña masih berperilaku seperti kondisi historis. Namun seiring waktu, naik-turun siklus menjadi lebih besar dan lebih terkonsentrasi pada satu rentang periode berulang. Perubahan itu terlihat dari penurunan sample entropy, indikator meningkatnya keteraturan pola ENSO, yang melampaui batas variasi alami.

Model juga menunjukkan peningkatan air–sea feedback — interaksi dua arah antara suhu laut dan angin yang memperkuat gangguan kecil hingga menciptakan ayunan lebih besar. Selain itu, fluktuasi cuaca tropis acak tampak menjadi lebih energik, mendorong Pasifik memasuki siklus yang semakin intens.

Ketika El Niño menguat, pola iklim global lain ikut terseret dalam ritme yang sama. Para peneliti menyebut fenomena ini climate mode resonance, yakni kondisi ketika beberapa siklus iklim global terkunci dan bergerak mengikuti periode El Niño.

Sinkronisasi terlihat pada North Atlantic Oscillation, yang mengarahkan badai ke Eropa, serta mode iklim di Samudra Hindia dan Atlantik yang memengaruhi monsun, hujan di Sahel, hingga musim badai Atlantik.

Simulasi AWI CM3 memperlihatkan kekuatan mode iklim ini meningkat signifikan, dengan ayunan suhu yang dapat bertambah hingga setengah atau lebih dibanding kondisi saat ini. Seluruh pola kemudian ikut mengunci pada ritme El Niño yang makin kuat.

Studi lain menunjukkan bahwa kawasan tropis Atlantik Utara juga akan mengalami ayunan antar-tahun yang lebih besar seiring pemanasan global, salah satunya akibat penguatan El Niño.

Dalam simulasi, sinyal penguatan El Niño tampak pada pola tekanan udara musim dingin di Atlantik Utara serta curah hujan di Eropa Barat. Keterkaitan yang semakin erat itu berarti badai Eropa dan musim dingin basah di kawasan tersebut akan makin bergantung pada fase El Niño dan La Niña.

Profesor Axel Timmermann dari Pusan National University memperingatkan bahwa sinkronisasi ini dapat memicu fluktuasi curah hujan ekstrem di wilayah seperti California Selatan dan Semenanjung Iberia. Di area tersebut, hydroclimate whiplash — peralihan mendadak dari kondisi sangat kering ke sangat basah — dapat membawa masyarakat dari krisis air langsung menuju ancaman banjir besar.

Analisis global menunjukkan bahwa ayunan ekstrem itu telah meningkat sejak pertengahan abad ke-20.

Proyeksi di California bahkan mencatat kenaikan besar dalam transisi dari kekeringan ke banjir, meski rata-rata curah hujan tahunan tidak banyak berubah. Studi yang dipimpin Daniel Swain memperkirakan lonjakan 25 hingga 100 persen pada kejadian perubahan dari kering ke basah tersebut.

Timmermann mencatat bahwa meskipun pola ENSO yang lebih teratur dapat meningkatkan akurasi prakiraan iklim musiman, dampaknya justru bisa makin besar. Kondisi ini menuntut strategi perencanaan dan adaptasi yang jauh lebih kuat dari para pengelola sumber daya air, sektor pertanian, hingga perencana kota di berbagai negara yang berisiko terdampak.

Tags: Cuaca Ekstrem IndonesiaFenomena El-NinoheadlineStudi Iklim
Teras Merdeka

Teras Merdeka

Related Posts

Kasus OTT Bupati Pati, Gerindra Jateng Tunggu Hasil Resmi KPK
Berita

Kasus OTT Bupati Pati, Gerindra Jateng Tunggu Hasil Resmi KPK

19/01/2026
EWS Aktif Dini Hari, 154 Warga Dusun Tanjung Borobudur Dievakuasi Akibat Longsor
Berita

EWS Aktif Dini Hari, 154 Warga Dusun Tanjung Borobudur Dievakuasi Akibat Longsor

17/01/2026
Marak Kasus Bullying di Sekolah, Heri Pudyatmoko: Kebijakan Harus Ditegakkan Guna Upaya Preventif
Jawa Tengah

Era AI dan Media Sosial, Heri Pudyatmoko Tekankan Teknologi Harus Memanusiakan Manusia

16/12/2025
Heri Pudyatmoko Paparkan Relevansi Pendidikan Perempuan dengan Tercapainya Ketahanan Pangan
Berita

Antisipasi Lonjakan Mobilitas Libur Panjang, Heri Pudyatmoko Soroti Kesiapan Transportasi Publik

16/12/2025
Next Post
Tahun Kuda Api 2026, 3 Shio Ini Diprediksi Paling Beruntung

Tahun Kuda Api 2026, 3 Shio Ini Diprediksi Paling Beruntung

TERBARU.

Kasus OTT Bupati Pati, Gerindra Jateng Tunggu Hasil Resmi KPK

Kasus OTT Bupati Pati, Gerindra Jateng Tunggu Hasil Resmi KPK

19/01/2026
BRIN Peringatkan Ancaman Sinkhole di Wilayah Karst Indonesia

BRIN Peringatkan Ancaman Sinkhole di Wilayah Karst Indonesia

17/01/2026
EWS Aktif Dini Hari, 154 Warga Dusun Tanjung Borobudur Dievakuasi Akibat Longsor

EWS Aktif Dini Hari, 154 Warga Dusun Tanjung Borobudur Dievakuasi Akibat Longsor

17/01/2026
Lazis Jateng Bersama Laznas Ikadi Lepas Truk Kemanusiaan Peduli Sumatra Jilid 3

Lazis Jateng Bersama Laznas Ikadi Lepas Truk Kemanusiaan Peduli Sumatra Jilid 3

08/01/2026
Dolfie Palit Bidik Kemenangan PDIP di Pemilu 2029, Tegaskan Jateng Kandang Banteng

Dolfie Palit Bidik Kemenangan PDIP di Pemilu 2029, Tegaskan Jateng Kandang Banteng

27/12/2025

TERPOPULER.

Tahun Kuda Api 2026, 3 Shio Ini Diprediksi Paling Beruntung

Tahun Kuda Api 2026, 3 Shio Ini Diprediksi Paling Beruntung

11/12/2025
Owner PT Kota Jati Furindo Yusak Yakin Mas Wiwit Mampu Bawa Jepara Jadi Mulus

Owner PT Kota Jati Furindo Yusak Yakin Mas Wiwit Mampu Bawa Jepara Jadi Mulus

11/10/2024
KDMP Terkendala Lahan, Desa Diminta Hindari Penggunaan Lahan Sawah dan Pertanian

KDMP Terkendala Lahan, Desa Diminta Hindari Penggunaan Lahan Sawah dan Pertanian

15/12/2025
Tragedi Banjir 2014 Silam Jadi Alasan BPBD Edukasi dan Mitigasi di Kalipucang Wetan

Tragedi Banjir 2014 Silam Jadi Alasan BPBD Edukasi dan Mitigasi di Kalipucang Wetan

20/08/2024
Isu Undang-undang Khusus untuk Ferdy Sambo Merebak, Begini Kata Jubir Tim KUHP Nasional

Isu Undang-undang Khusus untuk Ferdy Sambo Merebak, Begini Kata Jubir Tim KUHP Nasional

17/02/2023
Teras Merdeka

Terasmerdeka.com adalah sebuah media online yang bertekad untuk hadir menyajikan konten media yang berkualitas dan transformatif serta memberikan pencerahan kepada pembaca dengan sajian analisa faktual, aktual, dan kritis.

Follow Us

  • Beranda
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

© 2023 Teras Merdeka All right reserved

No Result
View All Result
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Jawa Tengah
      • Semarang
      • Jepara
      • Pantura
      • Solo Raya
      • Kedu
  • Pendidikan
  • Politik
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Peristiwa
  • Teknologi
  • Ensiklopedia
    • Analisa
    • Kolom
    • Opini
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

© 2023 Teras Merdeka All right reserved